PONDASI EKONOMI NEGERI MATADOR

PONDASI EKONOMI NEGERI MATADOR

Avilia Walls

          Pendapatan nasional merupakan indikator penting dalam suatu perekonomian negara terebut. Pendapatan nasional dapat diartikan sebagai suatu nilai yang menggambarkan seluruh produksi, pengeluaran, maupun pendapatan  yang dihasilkan dari semua pelaku/sektor ekonomi dari suatu negara dalam periode tertentu. Pendapatan nasional juga merupakan  salah satu tolok ukur yangsangat penting dalam menganalisis dan mengatasi masalah-masalah ekonomi makro yang dihadapi masyarakat sesuatu negara.  Kali ini saya akan membahas tentang pendapatan nasional dari negara Spanyol.

         Negara matador ini memiliki PDB (Produk Domestik Brutto) yang cukup besar menurut World Bank dengan nilai PDB sebesar $1.393 triliun dengan total populasi sebesar 46.62 Milyar peduduk Spanyol (2013) (GDP Spain). Sedangkan untuk GNI per capita Spanyol sebesar $29,940 (2013). Komposisi PDB menurut sektor pertanian 3,1%; industri 26,3%; dan jasa 70,7% (2012). Perolehan PDB (Produk Domestik Brutto) yang cukup besar membuat Spanyol termasuk dua puluh besar negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

Kontribusi Industri terhadap GDP

          Tren investasi di Spanyol sejak tahun 1980 secara berkelanjutan selalu berada di atas level rata-rata 15 negara teratas Uni Eropa, sebagaimana dapat. Pada periode sebelum krisis eropa, tingkat investasi di Spanyol semakin menjauh melebihi rata-rata 15 negara teratas Uni Eropa, dengan sektor industri yang menyumbang peran terbesar yaitu Konstruksi dan Perumahan diikuti oleh sektor Kesehatan, Pendidikan, Administrasi Publik, dan Pertahanan; serta jasa lokal/daerah.

          Sedangkan selama krisis Eropa terjadi yaitu periode tahun 2007 hingga 2011 Spanyol mengalami stagnansi PDB dari sebesar €1.028 Milyar pada tahun 2007 menjadi sebesar €1.005 Milyar di tahun 2011.Penurunan paling besar yaitu Investasi Swasta sebesar €75 Milyar diikuti oleh Konsumsi Swasta sebesar €26 Milyar, dan Investasi Pemerintah sebesar €16 Milyar. Peningkatan hanya pada Konsumsi Pemerintah sebesar €15 Milyar dan Ekspor Netto sebesar €78 Milyar. Sektor industri yang paling berpengaruh terhadap perubahan GDP Spanyol selama krisisyaitu penurunan pada sektor Konstruksi dan Perumahan sebesar 6,3% dari PDB tahun 2007, Pelayanan Lokal/ Daerah sebesar 1,3%, Manufaktur sebesar 0,5%, Utilitas sebesar 0,5%, transportasi sebesar 0,3%, dan lain-lain. Sedangkan kenaikan hanya pada sektor Jasa Profesional, Jasa Keuangan, dan Jasa Bisnis sebesar 0,3% dari PDB tahun 2007.

Prioritisasi Industri

Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam memilih sektor industri yang akan diprioritaskan oleh Negara yaitu berdasarkan ukurannya terhadap PDB Negara.

  • Konstruksi dan Perumahan

Dengan ukuran sebesar 7,6% atas PDB tahun 2011, lebih besar dibandingkan Rata-rata Negara teratas Uni Eropa yang hanya sebesar 5,8% PDB.

  • Kesehatan, Pendidikan, Administrasi Publik, dan Pertahanan

Dengan ukuran sebesar 4,3% atas PDB tahun 2011, lebih besar dibandingkan Rata-rata Negara teratas Uni Eropa yang hanya sebesar 2,7% PDB.

  • Pelayanan Lokal/ Daerah

Dengan ukuran sebesar 3,1% atas PDB tahun 2011, sama besarnya dengan proporsi Rata-rata Negara teratas Uni Eropa.

  • Transportasi

Memiliki peran sebesar 2,0% atas PDB tahun 2011, lebih besar dibandingkan Rata-rata Negara teratas Uni Eropa yang hanya sebesar 1,4% PDB.

  • Utilitas

Dengan ukuran sebesar 1,5% atas PDB tahun 2011, lebih besar dibandingkan Rata-rata Negara teratas Uni Eropa yang hanya sebesar 1,1% PDB

          Sejak krisis yang melanda Eropa, Spanyol pun terkena dampak yang cukup besar yaitu mengalami resersi yang menyebabkan terjadinya deficit anggaran. Selain itu Spanyol juga mengalami tingkat pengangguran yang tinggi, di mana menurut Laporan Departemen Tenaga Kerja Spanyol pada tahun desember 2013 tercatat 4,7 juta orang atau sebesar 25,98% masih terdaftar tidak memiliki pekerjaan. Jika dibiarkan banyak dampak yang akan terjadi kedepan nya antara lain kemiskinan. Untuk itulah Pemerintah Spanyol mengambil kebijakan dengan melonggarkan peraturan pemotongan upah dan pemutusan hubungan kerja. Hal ini dilakukan dengan tujuan mendorong perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Spanyol menambah jumlah tenaga kerja-nya.

APBN Spanyol

APBN (Anggaran Pendapatan & Belanja Negara) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan suatu negara yang disetujui oleh Parlemen. APBN berisi daftar sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun anggaran. Pada tahun 2014, Spanyol memiliki pendapatan negara sebesar $529.7 billion namun negara ini jugamelakukan belanja negara yang nilainya cukup besar yaitu sebesar $608.8 billion, hal ini dikarenakan pengaruh dari krisis yang melanda eropa, sehingga membuat defisit pada APBN Spanyol.

spn a

spn b

     Pemerintah Spanyol mengambil kebijakan dengan melonggarkan peraturan pemotongan upah dan pemutusan hubungan kerja. Hal ini dilakukan dengan tujuan mendorong perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Spanyol menambah jumlah tenaga kerja-nya. Pemerintah Spanyol mengambil kebijakan penghematan yang bertujuan untuk menyeimbangkan anggaran Negara, kebijakan tersebut ditandai dengan adanya:

  • Pemotongan subsidi,
  • Kenaikan pajak pertambahan nilai, dan
  • Pemotongan anggaran jaminan sosial dan tunjangan pengangguran.

     Kebijakan penghematan yang diambil Pemerintah Spanyol sebagaimana di atas mendapat penolakan dari warga Spanyol. Hal ini terjadi karena pemotongan subsidi tidak dilakukan secara selektif, dan langkah penghematan ini dilakukan di tengah naiknya harga kebutuhan pokok. Kebijakan penghematan sebagaimana di atas termasuk dalam agenda reformasi yang akan dijalankan oleh Pemerintah Spanyol sebagaimana gambar di bawah ini.

spn c

          Untuk hubungan kerjasama Internasional, Spanyol juga menjalin hubungan dengan beberapa negara Eropa dan negara – negara lainya, antara lain; Perancis, Jerman dan Portugal. Disamping itu, Italia, Britania Raya dan Amerika Serikat juga menjadi salah satu mitra penting dalam bidang ekspor dengan persentase Perancis 16,8%, Jerman 10,8%, Portugal 7,1%, Italia 7,7% dan Inggris 6,5%. (2012). Hasil ekspornya antara lain dalam bidang mesin, kendaraan bermotor, kimia, kapal, makanan dan farmasi.

http://data.worldbank.org/country/spain

http://www.kemlu.go.id/madrid/

http://id.tradingeconomics.com/spain/indicators

http://id.tradingeconomics.com/spain/government-budget-value

https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/sp.html

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Negeri Matador Ditanduk Krisis Ekonomi Eropa

     Negeri Matador Ditanduk Krisis Ekonomi Eropa

 Matador

     Matador, siapa yang tak kenal dengan pertunjukan ini, pertunjukkan yang mempertontonkan pertarungan antara torero melawan banteng yang sangat terkenal se-antero bumi ini. Lalu apa hubungan matador dengan perekonomian spanyol, dan kenapa mengaitkan matador dengan perekonomian Spanyol? Yapp, Kali ini saya akan mencoba membahas ada apa sebenarnya dengan perekonomian Spanyol. “Ditanduk” tampaknya uangkapan yang cocok disandang negara matador ini. Bagaimana tidak, krisis ekonomi yang dialami Eropa berimbas besar pada Spanyol. Sebelum memulai pembahasan kali ini, yuk kita kenalan dulu dengan Negara Pemenang Piala Dunia FIFA 2010 ini.

     Spanyol merupakan negara maju dan salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Negara matador ini memiliki PDB (Produk Domestik Brutto) yang cukup besar menurut World Bank dengan nilai PDB sebesar $1.393 triliun dengan total populasi sebesar 46.62 Milyar peduduk Spanyol (2013) (GDP Spain). Komposisi PDB menurut sektor pertanian 3,1%; industri 26,3%; dan jasa 70,7% (2012). Perolehan PDB (Produk Domestik Brutto) yang cukup besar membuat Spanyol termasuk dua puluh besar negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Mitra ekspor utamanya adalah Perancis, Jerman dan Portugal. Disamping itu, Italia, Britania Raya dan Amerika Serikat juga menjadi salah satu mitra penting dalam bidang ekspor. Hasil ekspornya antara lain dalam bidang mesin, kendaraan bermotor, kimia, kapal, makanan dan farmasi.

     Spanyol menganut sistem perekonomian campuran, dimana merupakan perpaduan antara sistem ekonomi terpusat dengan sistem ekonomi kapitalis dengan tujuan untuk dapat menciptakan persamaan hak dan menjaga perekonomian berkembang secara stabil. Sistem ekonomi campuran mencoba mengkombinasikan kebaikan dari kedua sistem tersebut, diantaranya menyerahkan perlunya campur tangan pemerintah secara aktif dalam kebebasan pihak swasta dalam melaksanakan kegiatan ekonominya.

     Sejak krisis ekonomi yang melanda Eropa, Spanyol pun mengalami resesi yang menyebabkan terjadinya defisit anggaran hingga memecahkan rekor defisit anggaran terbesar di Uni Eropa pada tahun 2012. Menurut lembaga statistik Uni Eropa, Eurostat, defisit Spanyol pada tahun 2012 mencapai 10,6% dari total Produk Domestik Bruto yang disebabkan karena biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk memperbaiki system perbankan. Sebagaimana diketahui sebelumnya bahwa sejak terjadi ledakan si sektor property pada tahun 2008 yang menyebabkan jatuhnya pasar properti dan konstruksi dan berimabas ke Bank – Bank di Spanyol yang terbebani oleh kredit macet.

Graph Ekonomi Spain

     Krisis perbankan di Bank – Bank Spanyol juga akibat perilaku pejabat perbankannya yang corrupt dan tidak prudent dalam mengelola manajemen perbankan. Krisis perbankan tersebut dicoba diatasi oleh Bank sentral Spanyol untuk menghindari efek menular  (contagion effect) ke negara Eropa lainnya, namun Bank Sentral Spanyol tidak kuat, sehingga menerima program  bail out dari  Bank Sentral Eropa pada tahun 2012. Otoritas Perbankan Spanyol meminta 100 million Euro, hanya untuk merekapitalisasi perbankannya, sedangkan untuk penyelamatan perbankan sendiri perlu 10 kali dari jumlah tersebut. IMF memonitor secara ketat persyaratan dan penggunaannya dalam program pemulihan perekonomian Spanyol.

      Setelah 15 tahun menikmati pertumbuhan GDP di atas rata-rata dunia (berkisar antara 3 – 4%), ekonomi Spanyol mulai mengalami perlambatan pada akhir tahun 2007 dan memasuki resesi pada kuartal kedua tahun 2008. GDP mengalami kontraksi (-3,7%) pada tahun 2009 (yang mengakhiri selama 16 tahun trend pertumbuhan). Pada tahun 2013 pertumbuhan eknomi masih lambat namun pertumbuhan GDP mulai positif yaitu sebesar 0,1%. Ekonomi Spanyol pada tahun 2013 sedikit mengalami perbaikan namun pemulihan krisi ekonomi masih lambat, dan sektor swasta belum sepnuhnya pulih. Masalah fiskal membaik dan stabil karena adanya langkah reformasi eknomi namun tingkat pengangguran masih merupakan masalah utama, Dari sisi ekspor terjadi sedikit kanaikan dan defisit perdagangan dapat ditekan karena pengurangan impor. Tingkat pengangguran meningkat dari 8% di tahun 2007 menjadi 26% di tahun 2013.

     Penurunan ekonomi juga berimbas pada kondisi keuangan negara. Usaha untuk mengurangi defisit berjalan lamban meskipun ada berbagai upaya pemerintah pusat untuk menaikkan pajak pendapatan maupun pemotongan anggaran. Pada tahun 2013 defisit berhasil ditekan menjadi 4,3% dari target yang disepakati antara Spanyol dan EU yaitu sebesar 6,3%.

     Meskipun defisit masih cukup besar dan prospek ekonomi belum menunjukan, pemerintahan PM Rajoy terus berupaya melakukan berbagai hal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi antara lain :

  • Pemotongan anggaran belanja.
  • Penerapan peraturan perburuhan yang lebih fleksibel.
  • Pembenahan sistem perbankan, dengan memanfaatkan pinjaman EU sebesar 130 milyar dollar untuk menginjeksi bank-bank yang bermasalah karena krdit macet di sektor konstruksi dan perumahan yang mengalami kolaps.

     Ekonomi Spanyol telah berkinerja dengan baik, tetapi masih banyak yang perlu dilakukan untuk mendorong terus konvergensi dalam wilayah euro. Krisis Ekonomi yang melanda Eropa berimbas besar pada negera peringkat pertama FIFA ini. Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, banyak upaya yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi pelemahan ekonomi tersebut. Salah satunya dengan mendorong pertumbuhan ekonomi yang diungkapkan oleh PM Rajoy. Kebijakan penghematan yang diambil Pemerintah Spanyol sebagaimana diungkapkan PM Rayoj bisa saja mendapat penolakan dari warga Spanyol. Hal ini terjadi karena pemotongan subsidi tidak dilakukan secara selektif, dan langkah penghematan ini dilakukan di tengah naiknya harga kebutuhan pokok.

     Usaha lain yang juga bisa dilakukan adalah penguatan dalam sektor Ekspor. Penguatan ekspor mendorong pemulihan kondisi negara dengan perekonomian yang besar di Eropa. Salah satu kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah Spanyol adalah mendukung industri otomotif dalam negeri untuk meningkatkan ekspor yang dapat menyeimbangkan minimnya permintaan dari dalam negeri. Sektor industri otomotif dapat mengincar pasar luar negeri yaitu ke Negara – negara berkembang atau Negara Eropa yang daya belinya masih tinggi Kebijakan Pemerintah untuk mendorong ekspor industri otomotif merupakan peluang untuk investor dalam menanamkan saham pada industri tersebut. Sektor aneka industri, yang dominan pada otomotif dan komponennya sangat dipengaruhi oleh suku bunga. Dengan rendahnya angka inflasi di Spanyol, maka suku bunga juga cenderung rendah, sehingga biaya produksi pun akan rendah.

     Upaya lainnya adalah mengutkan dalam sektor pariwisata, upaya ini sangat kuat untuk dilakukan karena berdasarkan fakta bahwa pariwisata adalah salah satu sumber primadona penggerak ekonomi Spanyol. Industri pariwisata di Spanyol merupakan  yang kedua tertinggi di dunia, yang menghasilkan hampir 40 milyar Euro di tahun 2006, atau lebih kurang 5% dari GDP.   Sektor ini memberi lapangan kerja langsung kepada sekitar 2 juta orang. Perekonomian Spanyol tertolong oleh sektor pariwisata yang terus bertumbuh, dan di bulan Agustus 2012 mencatat rekor kehadiran wisatawan sebanyak 7,9 juta orang.

Referensi :

http://data.worldbank.org/country/spain

OECD’s Spain country Web site

OECD Economic Survey of Spain

http://www.kemlu.go.id/madrid/

http://www.investinspain.org/invest/es/index.html

diasporaind-sp.org

Seri Diktat Kuliah, Perekonomian Indonsia, Universitas Gunadarma

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia

KODE ETIK IKATAN AKUNTAN INDONESIA

       Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia merupakan panduan dan aturan bagi seluruh anggota, baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di lingkungan dunia usaha, pada instansi pemerintah, maupun di lingkungan dunia pendidikan dalam pemenuhan  tanggung-jawab profesionalnya.

Tujuan profesi akuntansi adalah untuk memenuhi tanggung-jawabnya dengan standar profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dengan orientasi kepada kepentingan publik.

Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian:
1) Prinsip Etika,
2) Aturan Etika, dan
3) Interpretasi Aturan Etika.

 
1. Prinsip Etika

Prinsip Etika memberikan kerangka dasar bagi Aturan Etika, yang mengatur pelaksanaan pemberian jasa profesional oleh anggota. Prinsip Etika disahkan oleh Kongres dan berlaku bagi seluruh anggota.

PRINSIP ETlKA PROFESI IKATAN AKUNTAN INDONESIA

Mukadimah

I. Keanggotaan dalam Ikatan Akuntan Indonesia bersifat sukarela. Dengan menjadi anggota, seorang akuntan mempunyai kewajiban untuk menjaga disiplin diri di atas dan melebihi yang disyaratkan oleh hukum clan peraturan.

II. Prinsip Etika Profesi dalam Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia menyatakan pengakuan profesi akan tanggungjawabnya kepada publik, pemakai jasa akuntan, dan rekan. Prinsip ini memandu anggota dalam memenuhi tanggung-jawab profesionalnya dan merupakan landasan dasar perilaku etika dan perilaku profesionalnya. Prinsip ini meminta komitmen untuk berperilaku terhormat, bahkan dengan pengorbanan keuntungan pribadi

Prinsip Pertama – Tanggung Jawab Prolesi
Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai profesional setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

01. Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peranan tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka. Anggota juga harus selalu bertanggung jawab untuk bekerja sarna dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat, dan menjalankan tanggung-jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.

Prinsip Kedua – Kepentingan Publik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.

01. Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung-jawab kepada publik. Profesi akuntan memegang peranan yang penting di masyarakat, di mana publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepacla obyektivitas dan integritas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib. Ketergantungan ini menimbulkan tanggung-jawab akuntan terhadap kepentingan publik. Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani anggota secara keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku akuntan dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat dan negara.
02. Profesi akuntan dapat tetap berada pada posisi yang penting ini hanya dengan terus menerus memberikan jasa yang unik ini pada tingkat yang menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat dipegang teguh. Kepentingan utama profesi akuntan adalah untuk membuat pemakai jasa akuntan paham bahwa jasa akuntan dilakukan dengan tingkat prestasi tertinggi dan sesuai dengan persyaratan etika yang diperlukan untuk mencapai tingkat prestasi tersebut.
03. Dalam mememuhi tanggung-jawab profesionalnya, anggota mungkin menghadapi tekanan yang saling berbenturan dengan pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam mengatasi benturan ini, anggota harus bertindak dengan penuh integritar, dengan suatu keyakinan bahwa apabila anggota memenuhi kewajibannya kepada publik, maka kepentingan penerima jasa terlayani dengan sebaik-baiknya.
04. Mereka yang memperoleh pelayanan dari anggota mengharapkan anggota untuk memenuhi tanggungjawabnya dengan integritas, obyektivitas, keseksamaan profesional, dan kepentingan untuk melayani publik. Anggota diharapkan untuk memberikan jasa berkualitas, mengenakan imbalan jasa yang pantas, serta menawarkan berbagai jasa, semuanya dilakukan dengan tingkat profesionalisme yang konsisten dengan Prinsip Etika Profesi ini.
05. Semua anggota mengikat dirinya untuk menghormati kepercayaan publik. Atas kepercayaan yang diberikan publik kepadanya, anggota harus secara terus-menerus menunjukkan dedikasi mereka untuk mencapai profesionalisme yang tinggi.
06. Tanggung-jawab seorang akuntan tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan klien individual atau pemberi kerja. Dalam melaksanakan tugasnya seorang akuntan harus mengikuti standar profesi yang dititik-beratkan pada kepentingan publik, misalnya:
• Auditor independen membantu memelihara integritas dan efisiensi dari laporan keuangan yang disajikan kepada lembaga keuangan untuk mendukung pemberian pinjaman dan kepada pemegang saham untuk memperoleh modal;
• Eksekutif keuangan bekerja di berbagai bidang akuntansi manajemen dalam organisasi dan memberikan kontribusi terhadap efisiensi dan efektivitas dari penggunaan sumber daya organisasi;
• Auditor intern memberikan keyakinan ten tang sistem pengendalian internal yang baik untuk meningkatkan keandalan informasi keuangan dari pemberi kerja kepada pihak luar.
• Ahli pajak membantu membangun kepercayaan dan efisiensi serta penerapan yang adil dari sistem pajak; dan
• Konsultan manajemen mempunyai tanggung-jawab terhadap kepentingan umum dalam membantu pembuatan keputusan manajemen yang baik.

Prinsip Ketiga – Integritas
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

01. Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji semua keputusan yang diambilnya.
02. Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak dapat menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.
03. Integritas diukur dalam bentuk apa yang benar dan adil. Dalam hal tidak terdapat aturan, standar, panduan khusus atau dalam menghadapi pendapat yang bertentangan, anggota harus menguji keputusan atau perbuatannya dengan bertanya apakah anggota telah melakukan apa yang seorang berintegritas akan lakukan dan apakah anggota telah menjaga integritas dirinya. Integritas mengharuskan anggota untuk menaati baik bentuk maupun jiwa standar teknis dan etika.
04. Integritas juga mengharuskan anggota untuk mengikuti prinsip obyektivitas dan kehati-hatian profesional.

Prinsip Keempat – Obyektivitas
Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.

01. Obyektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah pengaruh pihak lain.
02. Anggota bekerja dalam berbagai kapasitas yang berbeda dan harus menunjukkan obyektivitas mereka dalam berbagai situasi. Anggota dalam praktik publik memberikan jasa atestasi, perpajakan, serta konsultasi manajemen. Anggota yang lain menyiapkan laporan keuangan sebagai seorang bawahan, melakukan jasa audit internal dan bekerja dalam kapasitas keuangan dan manajemennya di industri, pendidikan dan pemerintahan. Mereka juga mendidik dan melatih orang-orang yang ingin masuk ke dalam profesi. Apapun jasa atau kapasitasnya, anggota harus melindungi integritas pekerjaannya dan memelihara obyektivitas.
03. Dalam menghadapi situasi dan praktik yang secara spesifik berhubungan dengan aturan etika sehubungan dengan obyektivitas, pertimbangan yang cukup harus diberikan terhadap faktor-faktor berikut:
a. Adakalanya anggota dihadapkan kepada situasi yang memungkinkan mereka menerima tekanan- tekanan yang diberikan kepadanya. Tekanan ini dapat mengganggu obyektivitasnya.
b. Adalah tidak praktis untuk menyatakan dan menggambarkan semua situasi di mana tekanan- tekanan ini mungkin terjadi. Ukuran kewajaran (reasonableness) harus digunakan dalam menentukan standar untuk mengindentifikasi hubungan yang mungkin atau kelihatan dapat merusak obyektivitas anggota.
c. Hubungan-hubungan yang memungkinkan prasangka, bias atau pengaruh lainnya untuk melanggar obyektivitas harus dihindari.
d. Anggota memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa orang-orang yang terilbat dalam pemberian jasa profesional mematuhi prinsip obyektivitas.
e. Anggota tidak boleh menerima atau menawarkan hadiah atau entertainment yang dipercaya dapat menimbulkan pengaruh yang tidak pantas terhadap pertimbangan profesional mereka atau terhadap orang-orang yang berhubungan dengan mereka. Anggota harus menghindari situasi-situasi yang dapat membuat posisi profesional mereka ternoda.

Prinsip Kelima – Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya tkngan kehati-hatian, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh matifaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir.

01. Kehati-hatian profesional mengharuskan anggota untuk memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan kompetensi dan ketekunan. Hal ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya, derni kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan tanggung-jawab profesi kepada publik.
02. Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota seyogyanya tidak menggambarkan dirinya mernilki keahlian atau pengalaman yang tidak mereka punyai. Dalam semua penugasan dan dalam semua tanggung-jawabnya, setiap anggota harus melakukan upaya untuk mencapai tingkatan kompetensi yang akan meyakinkan bahwa kualitas jasa yang diberikan memenuhi tingkatan profesionalisme tinggi seperti disyaratkan oleh Prinsip Etika. Kompetensi profesional dapat dibagi menjadi 2 (dua) fase yang terpisah:
a. Pencapaian Kompetensi Profesional. Pencapaian kompetensi profesional pada awalnya memerlukan standar pendidikan umum yang tinggi, diikuti oleh pendidikan khusus, pelatihan dan ujian profesional dalam subyek-subyek yang relevan, dan pengalaman kerja. Hal ini harus menjadi pola pengembangan yang normal untuk anggota.
b. Pemeliharaan Kompetensi Profesional.
• Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalui kornitmen untuk belajar dan melakukan peningkatan profesional secara berkesinambungan selama kehidupan profesional anggota.
• Pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran untuk terus mengikuti perkembangan profesi akuntansi, termasuk di antaranya pernyataan-pernyataan akuntansi, auditing dan peraturan lainnya, baik nasional maupun internasional yang relevan.
• Anggota harus menerapkan suatu program yang dirancang untuk memastikan terdapatnya kendali mutu atas pelaksanaan jasa profesional yang konsisten dengan standar nasional dan internasional.
03. Kompetensi menunjukkan terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan suatu tingkatan pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan seorang anggota untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan kecerdikan. Dalam hal penugasan profesional melebihi kompetensi anggota atau perusahaan, anggota wajib melakukan konsultasi atau menyerahkan klien kepada pihak lain yang lebih kompeten. Setiap anggota bertanggung-jawab untuk menentukan kompetensi masing-masing atau menilai apakah pendidikan, pengalaman dan pertimbangan yang diperlukan memadai untuk tanggung-jawab yang harus dipenuhinya.
04. Anggota harus tekun dalam memenuhi tanggung-jawabnya kepada penerima jasa dan publik. Ketekunan mengandung arti pemenuhan tanggung-jawab untuk memberikan jasa dengan segera dan berhati-hati, sempurna dan mematuhi standar teknis dan etika yang berlaku.
05. Kehati-hatian profesional mengharuskan anggota untuk merencanakan dan mengawasi secara seksama setiap kegiatan profesional yang menjadi tanggung-jawabnya.

Prinsip Keenam – Kerahasiaan
Setiap anggota harus, menghormati leerahasiaan informas iyang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.

01. Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan informasi tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antara anggota dan klien atau pemberi kerja berakhir.
02. Kerahasiaan harus dijaga oleh anggota kecuali jika persetujuan khusus telah diberikan atau terdapat kewajiban legal atau profesional untuk mengungkapkan informasi.
03. Anggota mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa staf di bawah pengawasannya dan orang-orang yang diminta nasihat dan bantuannya menghormati prinsip kerahasiaan.
04. Kerahasiaan tidaklah semata-mata masalah pengungkapan informasi. Kerahasiaan juga mengharuskan anggota yang memperoleh informasi selama melakukan jasa profesional tidak menggunakan atau terlihat menggunakan informasi terse but untuk keuntungan pribadi atau keuntungan pihak ketiga.
05. Anggota yang mempunyai akses terhadap informasi rahasia ten tang penerima jasa tidak boleh mengungkapkannya ke publik. Karena itu, anggota tidak boleh membuat pengungkapan yang tidak disetujui (unauthorized disclosure) kepada orang lain. Hal ini tidak berlaku untuk pengungkapan informasi dengan tujuan memenuhi tanggung-jawab anggota berdasarkan standar profesional.
06. Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa standar profesi yang berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan dan bahwa terdapat panduan mengenai sifat dan luas kewajiban kerahasiaan serta mengenai berbagai keadaan di mana informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dapat atau perlu diungkapkan.
07. Berikut ini adalah contoh hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan sejauh mana informasi rahasia dapat diungkapkan.
a. Apabila pengungkapan diizinkan. Jika persetujuan untuk mengungkapkan diberikan oleh penerima jasa, kepentingan semua pihak termasuk pihak ketiga yang kepentingannya dapat terpengaruh harus dipertimbangkan.
b. Pengungkapan diharuskan oleh hukum. Beberapa contoh di mana anggota diharuskan oleh hukum untuk mengungkapkan informasi rahasia adalah:
• untuk menghasilkan dokumen atau memberikan bukti dalam proses hukum; dan
• untuk mengungkapkan adanya pelanggaran hukum kepada publik.
c. Ketika ada kewajiban atau hak profesional untuk mengungkapkan:
• untuk mematuhi standar teknis dan aturan etika; pengungkapan seperti itu tidak bertentangan dengan prinsip etika ini;
• untuk melindungi kepentingan profesional anggota dalam sidang pengadilan;
• untuk menaati peneleahan mutu (atau penelaahan sejawat) IAI atau badan profesionallainnya;.dan . untuk menanggapi permintaan atau investigasi oleh IAI atau badan pengatur.

Prinsip Ketujuh – Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi:

01. Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi hams dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung-jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.

Prinsip Kedelapan – Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar proesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.

01. Standar teknis dan standar profesional yang hams ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh lkatan Akuntan Indonesia, International Federation of Accountants, badan pengatur, dan peraturan perundang-undangan yang relevan.

2. Aturan Etika

Aturan Etika disahkan oleh Rapat Anggota Himpunan dan hanya mengikat anggota Himpunan yang bersangkutan.

3. Interpretasi Aturan Etika.

Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk oleh Himpunan setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak-pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya.

SUMBER
http://www.iaiglobal.or.id/tentang_iai.php?id=18
http://lidya-charming.blogspot.com/2010/09/kode-etik-iai.html
https://dharmotinambunan.wordpress.com/2012/12/04/8-prinsip-kode-etik-akuntansi/

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

ANALISIS ECONOMIC VALUE ADDED (EVA)

ANALISIS ECONOMIC VALUE ADDED (EVA)

LAPORAN KEUANGAN PT SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk

TAHUN 2006-2010

NOPAT            = EAT + beban bunga

NOPAT 2006 = Rp. 1.295.520.421 + Rp. 80.490.497 = Rp. 1.376.010.918

NOPAT 2007 = Rp. 1.775.408.324 + Rp. 11.625.211 = Rp. 1.787.033.535

NOPAT 2008 = Rp. 2.523.544.472 + Rp. 26.192.484 = Rp. 2.549.736.956

NOPAT 2009 = Rp. 3.326.487.957 + Rp. 20.358.231 = Rp. 3.346.846.188

NOPAT 2010 = Rp. 3.633.219.892 + Rp. 26.101.520 = Rp. 3.659.321.412

IC                  = Kas + modal kerja + aktiva tetap

IC 2006        = Rp. 1.743.589.294 + Rp. 593.152.000 + Rp. 3.343.156.389

= Rp. 5.679.897.683

IC 2007        = Rp. 2.822.280.357 + Rp. 593.152.000 + Rp. 3.247.315.771

= Rp. 6.662.748.128

IC 2008        = Rp. 3.746.684.082 + Rp. 593.152.000 + Rp. 3.519.542.019

= Rp. 7.859.378.101

IC 2009        = Rp. 4.234.701.124 + Rp. 593.152.000 + Rp. 4.732.301.140

= Rp. 9.560.154.264

IC 2010        = Rp. 3.789.165.753 + Rp. 593.152.000 + Rp. 8.219.394.190

= Rp. 12.601.711.943

D                   = (total hutang / total hutang dan ekuitas) x 100%

D 2006         = (Rp. 1.915.242.938 / Rp. 7.496.419.127) x 100 %   = 25,55 %

D 2007         = (Rp. 1.795.640.393 / Rp. 8.515.227.431) x 100 %   = 21,09 %

D 2008         = (Rp. 2.429.248.657 / Rp. 10.602.963.724) x 100 % = 22,91 %

D 2009         = (Rp. 2.633.214.059 / Rp. 12.951.308.161) x 100 % = 20,33 %

D 2010         = (Rp. 3.423.246.058 / Rp. 15.562.998.946) x 100 % = 21,99 %

rD                  = (biaya bunga / total hutang) x 100%

rD 2006        = (Rp. 80.490.497 / Rp. 1.915.242.938) x 100% = 4,20 %

rD 2007        = (Rp. 11.625.211 / Rp. 1.795.640.393) x 100% = 0,65 %

rD 2008        = (Rp. 26.192.484 / Rp. 2.429.248.657) x 100% = 1,08 %

rD 2009        = (Rp. 20.358.231 / Rp. 2.633.214.059) x 100% = 0,77 %

rD 2010        = (Rp. 26.101.520 / Rp. 3.423.246.058) x 100% = 0,76 %

Tax                = (beban pajak / laba bersih sebelum pajak) x 100%

Tax 2006     = (Rp.    546.343.160 / Rp. 1.857.041.828) x 100% = 29,42 %

Tax 2007     = (Rp.    766.675.014 / Rp. 2.560.214.299) x 100% = 29,95 %

Tax 2008     = (Rp. 1.045.568.598 / Rp. 3.589.528.574) x 100% = 29,13 %

Tax 2009     = (Rp. 1.302.433.159 / Rp. 4.655.188.285) x 100% = 27,98 %

Tax 2010     = (Rp. 1.063.509.283 / Rp. 4.722.623.381) x 100% = 22,52 %

E                     = (total ekuitas / total hutang dan ekuitas) x 100%

E 2006          = (Rp.   5.499.614.451 / Rp.   7.496.419.127) x 100% = 73,36 %

E 2007          = (Rp.   6.627.262.565 / Rp.   8.515.227.431) x 100% = 77,83 %

E 2008          = (Rp.   8.069.585.873 / Rp. 10.602.963.724) x 100% = 76,11 %

E 2009          = (Rp. 10.197.679.028 / Rp. 12.951.308.161) x 100% = 78,74 %

E 2010          = (Rp. 12.006.438.613 / Rp. 15.562.998.946) x 100% = 77,15 %

rE                   = 1 / PER (harga saham x EPS)

rE 2006        = 1 / (Rp. 100 / 218) = 2,18

rE 2007        = 1 / (Rp. 100 / 299) = 2,99

rE 2008        = 1 / (Rp. 100 / 426) = 4,26

rE 2009        = 1 / (Rp. 100 / 566) = 5,66

rE 2010        = 1 / (Rp. 100 / 613) = 6,13

WACC           = {D x rD (1-Tax)} + (E x rE)

WACC 2006 = {0,2555 x 0,042 (1 – 0,2942)} + (0,7336 x 2,18)

= 1,61

WACC 2007 = {0,2109 x 0,0065 (1 – 0,2995)} + (0,7783 x 2,99)

= 2,33

WACC 2008 = {0,2291 x 0,0108 (1 – 0,2913)} + (0,7611x 4,26)

= 3,24

WACC 2009 = {0,2033 x 0,0077 (1 – 0,2798)} + (0,7874 x 5,66)

= 4,46

WACC 2010 = {0,2199 x 0,0076 (1 – 0,2252)} + (0,7715 x 6,13)

= 4,73

CC                 = WACC x IC

CC 2006       = 1,61 x Rp.   5.679.897.683 = Rp.   9.144.635.269,63

CC 2007       = 2,33 x Rp.   6.662.748.128 = Rp. 15.524.203.138,24

CC 2008       = 3,24 x Rp.   7.859.378.101 = Rp. 25.464.385.047,24

CC 2009       = 4,46 x Rp.   9.560.154.264 = Rp. 42.638.288.017,44

CC 2010       = 4,73 x Rp. 12.601.711.943 = Rp. 59.606.097.490,39

EVA               = NOPAT – CC

EVA 2006    = Rp. 1.376.010.918 – Rp.   9.144.635.269,63 = Rp.   -7.768.624.351,63

EVA 2007    = Rp. 1.787.033.535 – Rp. 15.524.203.138,24 = Rp. -13.737.169.603,24

EVA 2008    = Rp. 2.549.736.956 – Rp. 25.464.385.047,24 = Rp. -22.914.648.091,24

EVA 2009    = Rp. 3.346.846.188 – Rp. 42.638.288.017,44 = Rp. -39.291.441.829,44

EVA 2010    = Rp. 3.659.321.412 – Rp. 59.606.097.490,39 = Rp. -55.946.776.078,39

TABEL ANALISIS EVA

PT SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk

Tahun 2006-2010

NO

KET

2006

2007

2008

2009

2010

1

NOPAT

Rp.

1.376.010.918

Rp.

1.787.033.535

Rp.

2.549.736.956

Rp.

3.346.846.188

Rp.

3.659.321.412

2

IC

Rp.

5.679.897.683

Rp.

6.662.748.128

Rp.

7.859.378.101

Rp.

9.560.154.264

Rp.

12.601.711.943

3

D

25,55 %

21,09 %

22,91 %

20,33 %

21,99 %

4

rD

4,20 %

0,65 %

1,08 %

0,77 %

0,76 %

5

Tax

29,42 %

29,95 %

29,13 %

27,98 %

22,52 %

6

E

73,36 %

77,83 %

76,11 %

78,74 %

77,15 %

7

rE

2,18

2,99

4,26

5,66

6,13

8

WACC

1,61

2,33

3,24

4,46

4,73

9

CC

Rp.

9.144.635.269,63

Rp.

15.524.203.138,24

Rp. 25.464.385.047,24

Rp. 42.638.288.017,44

Rp.

59.606.097.490,39

10

EVA

(Rp.

7.768.624.351,63)

(Rp.

13.737.169.603,24)

(Rp.

22.914.648.091,24)

(Rp.

39.291.441.829,44)

(Rp.

55.946.776.078,39)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Laporan Keuangan PT SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

Laporan Keuangan PT SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN

Tahun 2006 – 2011

IMAGE0016 IMAGE0015 IMAGE0014 IMAGE0013 IMAGE0012 IMAGE0011 IMAGE0010 IMAGE0009 IMAGE0008 IMAGE0007 IMAGE0006 IMAGE0005 IMAGE0004 IMAGE0003 IMAGE0002 IMAGE0001

Sumber :

http://www.semengresik.com/ina/invAnnualReport.aspx

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Analisis Laporan Keuangan

Analisis Rasio Keuangan

Pengertian

     Rasio Keuangan atau Rasio Financial merupakan alat analisis keuangan perusahaan untuk menilai kinerja suatu perusahaan berdasarkan perbandingan data keuangan yang terdapat pada pos laporan keuangan (neraca, laporan laba/rugi, laporan aliran kas). Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. (Wikipedia)

Beberapa pendapat para ahli ;

  1. Rasio keuangan adalah alat yang digunakan untuk menganalisis kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Kita menghitung berbagai rasio karena dengan cara ini kita bisa mendapat perbandingan yang mungkin akan berguna daripada berbagai angka mentahnya sendiri. (Van Horne, 2005:234).
  2. Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandigan dari suatu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (bararti). Misalnya antara hutang dan modal, antara kas dan total asset, antara harga pokok produksi dengan total penjualan dan sebagainya. (Syafri, 2008:297).
  3. Rasio keuangan merupakan salah satu alat untuk menilai kinerja dan kondisi keuangan perusahaan. (Sawir, 2009:6).

     Sederhananya rasio keuangan adalah alat ukur untuk menganalisis kinerja perusahaan berdasarkan laporan keuangan.

     Rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Dengan menggunkan alat analisa berupa rasio keuangan dapat menjelaskan dan memberikan gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan dari suatu periode ke periode berikutnya.

     Analisis rasio dapat digunakan untuk membimbing investor dan kreditor untuk membuat keputusan atau pertimbangan tentang pencapaian perusahaan dan prospek pada masa datang. Analisis rasio keuangan menggunakan data laporan keuangan yang telah ada sebagai dasar penilaiannya. Meskipun didasarkan pada data dan kondisi masa lalu, analisis rasio keuangan dimaksudkan untuk menilai risiko dan peluang pada masa yang akan datang.

     Manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan analisis rasia keuangan antara lain dapat penentuan tingkat kesehatan keuangan suatu perusahaan, mempermudah manajer dalam pengambilan keputusan, meminimalisir resiko yang berdampak kerugian dan dapat memperkirakan keuntungan yang bisa diperoleh oleh perusahaan.

Dalam mengadakan analisa rasio pada dasarnya dapat melakukan dengan 2 macam cara perbandingan, yaitu :

  1. Membandingkan rasio sekarang (present ratio) dengan rasio-rasio dari waktu-waktu yang lalu (ratio historis)
  2. Membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan (company ratio) dengan rasio-rasio semacam dari perusahaan lain yang sejenis atau industry untuk waktu yang sama.

Jenis – Jenis Rasio Keuangan

 Berdasarkan sumber datanya rasio keuangan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  1. Rasio-rasio neraca (balance sheet ratio), yaitu rasio-rasio yang disususn dari data yang bersumber atau yang berasal dari neraca.
  2. Rasio-rasio laporan laba rugi (income statement ratio), yaitu rasio yang disusun dari data yang berasal dari laporan laba rugi.
  3. Rasio-rasio antar laporan (intern statement ratio), yaitu rasio-rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca dan data yang berasal dari laporan laba rugi.

Berdasarkan tujuan alasisisnnya rasio keuangan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Rasio Likuiditas

Merupakan Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajian financial jangka pendek yang berupa hutang – hutang jangka pendek (short time debt).

 a. Current ratio

Aktiva Lancar

 Utang Lancar

 b. Cash ratio

(Kas + Efek)

Utang Lancar

 c. Quick ratio

(Kas+Efek+Piutang)

Utang Lancar

 d. Working Capital to Total Assets ratio

(Aktiva Lancar-Utang Lancar)

Jumlah Aktiva

2. Rasio Solvabilitas

Rasio ini disebut juga Ratio leverage yaitu mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut. Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang.

a. Total debt to Equity ratio

(Utang Lancar + Utang Jangka Panjang)

Jumlah Modal Sendiri

b. Total debt to total capital Assets

(Utang Lancar+Utang Jangka Panjang)

Jumlah Modal/Aktiva

c. Long term debt to Equity ratio

Utang Jangka Panjang

Modal Sendiri

d. Tangible assets debt coverage

(Jml Aktiva – Intangibles – Utang Lancar)

Utang Jangka Panjang

e. Times interest earned raatio

EBIT

Bunga Utang Jangka Panjang

 

3. Rasio Rentabilitas

Rasio ini disebut juga sebagai Ratio Profitabilitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba atau keuntungan, profitabilitas suatu perusahaan mewujudkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut.

a. Gross profit margin

(Penjualan Netto – HPP) 

Penjualan Netto

b. Operating income ratio

(Penjualan Netto – HPP – Biaya Adm, Penjualan, Umum)

Penjualan Netto

 c. Operating ratio

(HPP + Biaya adm, Penjualan, Umum)  

Penjualan Netto

 d. Net profit margin

Laba Netto sesudah pajak

Penjualan Netto

 e. Earning power of total investment

EBIT

Jumlah Aktiva

 f. Net earning power ratio

Laba Netto sesudah pajak

Jumlah Aktiva

 g. Rate or return for the owners

Laba Netto sesudah pajak

Jumlah Modal Sendiri

4. Rasio Aktivitas

Rasio yang menunjukkan sejauh mana efektivitas penggunaan aset dengan melihat tingkat aktivitas aset.

a. Total assets turnover

Penjualan Netto

Jumlah Aktiva

b. Receivable turnover

Penjualan Kredit

Piutang Rata-rata

c. Average collection periode

(Piutang Rata-rata X 360)

Penjualan Kredit

d. Inventory turnover

HPP

Inventory Rata-rata

e. Average day’s inventory

(Inventory Rata-rata X 360)

HPP

f. Working capital turnover

Penjualan Netto

(Aktiva Lancar – Utang Lancar)

 

 

Sumber

http://www.psychologymania.com/2012/12/manfaat-analisis-rasio-keuangan.html http://www.kajianpustaka.com/2012/12/rasio-keuangan.html#.UVg-Jlc-lqc http://shelmi.wordpress.com/2009/03/04/rasio-%E2%80%93-rasio-keuangan-perusahaan/ http://id.scribd.com/doc/9677506/Teori-Rasio-Keuangan               http://dwiermayanti.wordpress.com/2011/06/10/analisis-rasio-keuangan/       http://id.wikipedia.org/wiki/Rasio_finansial

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

ARSITEKTUR KOMPUTER

PENGERTIAN ARSITEKTUR KOMPUTER

Arsitektur komputer adalah konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem komputer. Arsitektur komputer ini merupakan rencana cetak-biru dan deskripsi fungsional dari kebutuhan bagian perangkat keras yang didesain (kecepatan proses dan sistem interkoneksinya). Dalam hal ini, implementasi perencanaan dari masing–masing bagian akan lebih difokuskan terutama, mengenai bagaimana CPU akan bekerja, dan mengenai cara pengaksesan data dan alamat dari dan ke memori cacheRAMROMcakram keras, dll).

 

Tingkatan Dalam Arsitektur Komputer

Ada sejumlah tingkatan dalam konstruksi dan organisasi sistem komputer. Perbedaan paling sederhana diantara tingkatan tersebut adalah perbedaan antara hardware dan software.

Tingkatan Dasar Arsitektur Komputer

Pada tingkatan ini Hardware sebagai tingkatan komputer yang paling bawah dan paling dasar, dimana pada hardware ini “layer” software ditambahkan. Software tersebut berada di atas hardware, menggunakannya dan mengontrolnya. Hardarwe ini mendukung software dengan memberikan atau menyediakan operasi yang diperlukan software.

Multilayerd Machine

Tingkatan dasar arsitektur komputer kemudian dikembangkan dengan memandang sistem komputer keseluruhan sebagai “multilayered machine” yang terdiri dari beberapa layer software di atas beberapa layer hardware.

 

  1. CPU (Central processing Unit), yang mengendalikan semua unit sistem komputer yang lain dan mengubah input menjadi output.
  • Primary storage (penyimpanan primer), berisi data yang sedang diolah dan program
  • Control unit (unit pengendalian), membuat semua unit bekerja sama sebagai suatu sistem
  • Aritmatika and logical Unit, tempat berlangsungnya operasi perhitungan matematika dan logika
  1. Unit Input, memasukkan data ke dalam primary storage
  2. Secondary storage (penyimpanan sekunder), menyediakan tempat untuk menyimpan program dan data saat tidak digunakan
  3. Unit Output, mencatat hasil pengolahan

 

PERALATAN INPUT

Perangkat input merupakan peralatan yang dapat digunakan untuk menerima data yang akan diolah ke dalam komputer. Perangkat ini yang digunakan oleh pengguna untuk melakukan interaksi dengan komputer agar komputer melaksanakan perintah yang diberikan oleh penggunanya. Prinsip kerja yang dilakukan perangkat input adalah merubah perintah yang dapat dipahami oleh manusia kepada bentuk yang dipahami oleh komputer (machine readable form), ini berarti mengubahkan perintah dalam bentuk yang dipahami oleh manusia kepada data yang dimengerti oleh komputer yaitu dengan kode-kode binary (binary encoded information).

 

PEMROSESAN PUSAT DAN PENYIMPANAN SEKUNDER

CPU atau satuan merupakan tempat pemrosesan instruksi-instruksi program. Pada komputer mikro, processor ini disebut  microprocessor. CPU terdiri dari dua bagian utama, yaitu unit kendali ( control unit) dan unit Aritmatika dan logika (arithmethic logic unit). Disamping dua bagian utama tersebut, CPU mempunyai beberapa simpanan yang berukuran kecil yang disebut register.

Penyimpanan sekunder (secondary storage)

Penyimpanan sekunder (juga dikenal sebagai memori eksternal atau penyimpanan tambahan), berbeda dari penyimpanan utama dalam hal itu tidak langsung dapat diakses oleh CPU. Komputer biasanya menggunakan input / saluran output untuk mengakses penyimpanan sekunder dan transfer data yang diinginkan dengan menggunakan daerah menengah dalam penyimpanan utama. Penyimpanan sekunder tidak kehilangan data bila perangkat dimatikan-itu adalah non-volatile. Per unit, itu biasanya juga dua lipat lebih murah dari penyimpanan utama. Akibatnya, sistem komputer modern biasanya memiliki dua perintah besarnya lebih penyimpanan sekunder dari penyimpanan primer dan data disimpan untuk waktu yang lebih lama disana.

 

PERALATAN OUTPUT

Adalah perangkat keras komputer yang berfungsi untuk menampilkan keluaran sebagai hasil pengolahan data. Keluaran dapat berupa hard-copy (ke kertas), soft-copy (ke monitor), ataupun berupa suara.

Output yang dihasilkan dari pemroses dapat digolongkan menjadi empat bentuk, yaitu tulisan (huruf, angka, simbol khusus), image (dalam bentuk grafik atau gambar), suara, dan bentuk lain yang dapat dibaca oleh mesin (machine-readable form). Tiga golongan pertama adalah output yang dapat digunakan langsung oleh manusia, sedangkan golongan terakhir biasanya digunakan sebagai input untuk proses selanjutnya dari komputer.

Peralatan output dapat berupa:

  • Hard-copy device, yaitu alat yang digunakan untuk mencetak tulisan dan image pada media keras seperti kertas atau film.
  • Soft-copy device, yaitu alat yang digunakan untuk menampilkan tulisan dan image pada media lunak yang berupa sinyal elektronik.
  • Drive device atau driver, yaitu alat yang digunakan untuk merekam simbol dalam bentuk yang hanya dapat dibaca oleh mesin pada media seperti magnetic disk atau magnetic tape. Alat ini berfungsi ganda, sebagai alat output dan juga sebagai alat input.

 

SUMBER :

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar